Lewati ke konten
Yayasan Pendidikan Cendekia Muslim
Berita Edukasi

Hari Santri dan Tradisi Literasi Pesantren, Merawat Budaya Membaca dan Mengkaji Ilmu

Kamis, 15 Oktober 2026 · 14.08 WIB Suci Rahmawati 9 menit baca 3×
Hari Santri dan Tradisi Literasi Pesantren, Merawat Budaya Membaca dan Mengkaji Ilmu

Sijunjung, Kamis, 15 Oktober 2026. Menjelang peringatan Hari Santri pada 22 Oktober, tradisi literasi pesantren menjadi salah satu warisan pendidikan yang penting untuk dikenali kembali. Pesantren tidak hanya dikenal sebagai tempat mempelajari ilmu agama, tetapi juga sebagai lingkungan yang membangun kebiasaan membaca, menyimak, mencatat, berdiskusi, menghafal, dan mengamalkan pengetahuan. Tradisi tersebut telah berlangsung dalam waktu yang panjang dan menjadi bagian dari cara santri memperdalam pemahaman terhadap kitab serta ajaran yang dipelajari.

Yayasan Pendidikan Cendekia Muslim mengangkat tradisi literasi pesantren sebagai bahan refleksi menjelang Hari Santri. Beberapa metode yang dikenal dalam proses belajar pesantren antara lain sorogan, bandongan, musyawarah atau bahtsul masail, serta hafalan dan pengulangan. Masing-masing memiliki cara tersendiri dalam membantu santri memahami materi, melatih ketelitian, dan mengembangkan kemampuan menyampaikan pendapat berdasarkan rujukan.

Tradisi tersebut juga memberi pelajaran bahwa literasi tidak terbatas pada membaca teks. Membaca perlu disertai pemahaman, mencatat membantu mengingat hal penting, diskusi melatih penalaran, sedangkan hafalan dan pengulangan menguatkan ingatan. Nilai-nilai ini dapat dikenalkan kepada anak di rumah maupun di sekolah melalui kegiatan sederhana yang sesuai dengan usia dan kebutuhan mereka.

Tradisi literasi pesantren merupakan rangkaian kebiasaan belajar yang menempatkan kegiatan membaca, menyimak, mencatat, mengkaji, menghafal, dan berdiskusi sebagai bagian dari proses memperoleh ilmu. Dalam narasi yang diangkat menjelang Hari Santri, terdapat empat bentuk kegiatan yang menjadi perhatian, yaitu sorogan, bandongan, musyawarah atau bahtsul masail, serta hafalan dan pengulangan.

Sorogan adalah metode ketika santri membaca kitab di hadapan guru. Guru menyimak bacaan, kemudian membetulkan bacaan atau pemahaman apabila terdapat kekeliruan. Proses ini memberi kesempatan kepada santri untuk berlatih secara langsung dan memperoleh koreksi dari orang yang membimbingnya. Santri juga belajar bahwa memahami teks memerlukan ketelitian dan kesediaan menerima arahan.

Bandongan dilakukan ketika guru membaca dan menjelaskan kitab, sementara santri menyimak serta memberi catatan pada kitab masing-masing. Dalam metode ini, perhatian dan keterampilan mencatat menjadi bagian penting. Santri tidak hanya mendengar penjelasan, tetapi juga berusaha menandai keterangan yang dianggap penting agar dapat dipelajari kembali.

Musyawarah atau bahtsul masail merupakan kegiatan berdiskusi untuk membahas persoalan berdasarkan rujukan kitab. Kegiatan ini memberi ruang kepada santri untuk mengemukakan pendapat, menyimak pandangan orang lain, dan menelaah persoalan dengan mengacu pada sumber yang dipelajari. Diskusi semacam ini mengajarkan bahwa pemahaman perlu dibangun melalui alasan dan rujukan, bukan sekadar pendapat pribadi.

Hafalan dan pengulangan menjadi bagian lain dari tradisi belajar. Materi yang dihafal dan dipelajari kembali secara berkala dapat membantu menguatkan ingatan serta memperdalam pemahaman. Pengulangan juga memberi kesempatan bagi santri untuk memeriksa kembali bagian yang belum dikuasai dan memperbaiki kekeliruan.

Santri merupakan pelaku utama dalam tradisi literasi pesantren. Mereka membaca kitab, menyimak penjelasan, mencatat keterangan, mengikuti diskusi, dan mengulang materi. Melalui kegiatan tersebut, santri belajar mengambil peran aktif dalam proses memperoleh ilmu, bukan hanya menerima informasi secara pasif.

Guru atau kiai memiliki peran sebagai pembimbing. Dalam sorogan, guru menyimak bacaan dan memberikan koreksi. Dalam bandongan, guru membaca serta menjelaskan kitab. Ketika musyawarah berlangsung, bimbingan guru dapat membantu menjaga pembahasan agar tetap merujuk pada sumber dan dilakukan dengan adab. Peran guru menjadi penting karena proses memahami teks memerlukan arahan dan ketelitian.

Keluarga juga dapat mengambil bagian dalam menumbuhkan budaya literasi anak. Orang tua dapat menyediakan waktu membaca bersama, mendengarkan anak menjelaskan apa yang dipelajari, mengajak berdiskusi dengan sopan, dan membantu anak mengulang materi. Kebiasaan ini tidak harus meniru seluruh kegiatan pesantren, tetapi dapat mengambil nilai dasarnya: membaca dengan teliti, mencatat hal penting, berdiskusi, dan mengulang pelajaran.

Yayasan Pendidikan Cendekia Muslim mengangkat tradisi ini sebagai pengingat bahwa budaya literasi dapat mendukung pendidikan dan pembentukan akhlak. Anak-anak dapat dibimbing agar menghargai sumber bacaan, mendengarkan orang yang menjelaskan, menerima koreksi, serta menyampaikan pendapat dengan santun.

Masyarakat dan lingkungan pendidikan juga berperan dalam menciptakan suasana yang menghargai ilmu. Ketersediaan bahan bacaan, ruang belajar yang nyaman, dan kebiasaan bertukar pengetahuan secara baik dapat membantu literasi tumbuh sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.

Berita ini disusun pada Kamis, 15 Oktober 2026, menjelang peringatan Hari Santri pada 22 Oktober. Momentum tersebut menjadi kesempatan untuk mengenalkan kembali tradisi literasi pesantren dan mengajak keluarga serta lingkungan pendidikan melihat nilai yang dapat dipetik dari metode belajar para santri.

Walaupun menjadi bahan refleksi menjelang Hari Santri, kebiasaan literasi dapat diterapkan sepanjang tahun. Membaca, mencatat, berdiskusi, dan mengulang materi dapat dilakukan setiap hari dengan durasi yang sesuai. Pembiasaan secara teratur membantu anak memahami bahwa belajar bukan hanya kegiatan menjelang ujian atau ketika mendapat tugas, tetapi bagian dari pengembangan diri.

Keluarga dapat memilih waktu tertentu untuk membaca bersama atau mengajak anak menceritakan kembali pelajaran yang diperoleh. Guru dapat memasukkan kegiatan mencatat, tanya jawab, diskusi, dan pengulangan dalam pembelajaran. Kebiasaan yang dilakukan secara bertahap lebih mudah dipelihara daripada kegiatan yang terlalu berat dan tidak sesuai dengan kemampuan anak.

Tradisi literasi pesantren penting karena mempertemukan kegiatan membaca dengan pemahaman. Membaca teks saja belum tentu membuat seseorang memahami maknanya. Melalui bimbingan, pencatatan, diskusi, serta pengulangan, proses belajar menjadi lebih terarah dan memberi kesempatan untuk memperbaiki pemahaman.

Sorogan melatih ketelitian dan keterbukaan menerima koreksi. Ketika membaca di hadapan guru, santri dapat mengetahui bagian yang perlu diperbaiki. Nilai ini dapat diterapkan dalam kehidupan anak melalui kebiasaan memeriksa kembali pekerjaan, menerima masukan, dan tidak merasa malu ketika perlu belajar ulang.

Bandongan menunjukkan pentingnya menyimak dengan saksama dan mencatat hal penting. Catatan dapat membantu anak mengingat penjelasan dan meninjau kembali materi setelah pembelajaran selesai. Kebiasaan mencatat juga melatih kemampuan memilih informasi yang penting, menyusun gagasan, dan mengelola pengetahuan.

Musyawarah atau bahtsul masail mengajarkan cara membahas persoalan dengan merujuk pada sumber. Diskusi yang baik memberi ruang bagi peserta untuk menyampaikan pendapat sekaligus mendengarkan pandangan orang lain. Anak dapat belajar bahwa perbedaan pendapat sebaiknya dibahas dengan sopan, disertai alasan, dan terbuka terhadap informasi yang lebih tepat.

Hafalan dan pengulangan membantu memperkuat ingatan. Mengulang materi dalam waktu yang teratur memberi kesempatan bagi seseorang untuk mengingat kembali pengetahuan dan menemukan bagian yang belum dipahami. Kegiatan ini dapat dilakukan secara sederhana, misalnya membaca ulang catatan atau menjelaskan kembali isi bacaan dengan kata-kata sendiri.

Secara keseluruhan, tradisi literasi pesantren menunjukkan bahwa membaca, mencatat, berdiskusi, dan mengamalkan merupakan kegiatan yang saling melengkapi. Literasi tidak berhenti pada kemampuan mengenali kata, tetapi juga mencakup upaya memahami, menimbang, dan menggunakan pengetahuan secara bertanggung jawab. Karena itu, tradisi ini relevan untuk mendukung pendidikan anak di berbagai lingkungan.

Tradisi literasi pesantren tumbuh di lingkungan pesantren melalui kegiatan belajar yang dibimbing oleh guru. Namun, nilai dasarnya dapat diterapkan di rumah, sekolah, dan masyarakat. Setiap lingkungan dapat menyesuaikan bentuk kegiatan dengan usia anak, ketersediaan bahan bacaan, dan waktu yang dimiliki.

Di rumah, orang tua dapat membuat waktu membaca bersama, meminta anak menceritakan isi bacaan, atau mengajak anak mencatat tiga hal penting dari materi yang dipelajari. Anak juga dapat diajak mengulang pelajaran dengan menjelaskan kembali menggunakan bahasanya sendiri. Kegiatan sederhana ini mengambil nilai sorogan, bandongan, dan pengulangan tanpa harus menyalin seluruh bentuk pembelajaran pesantren.

Di sekolah, guru dapat mengembangkan kegiatan membaca terarah, mencatat pokok penjelasan, diskusi kelompok, serta pengulangan materi. Guru dapat memberi kesempatan kepada peserta didik untuk menjelaskan pemahaman mereka dan memberikan koreksi secara membangun. Dengan demikian, kegiatan literasi menjadi bagian dari proses belajar, bukan sekadar tugas tambahan.

Di lingkungan pendidikan Yayasan Pendidikan Cendekia Muslim, pesan ini dapat menjadi pengingat untuk menghubungkan pengetahuan dengan adab. Anak perlu dibimbing agar menghargai bahan bacaan, menyimak ketika orang lain berbicara, menyampaikan pendapat dengan sopan, dan bersedia memperbaiki pemahaman. Nilai-nilai tersebut mendukung perkembangan akademik sekaligus karakter.

Di masyarakat, budaya literasi dapat tumbuh melalui kebiasaan berbagi bacaan yang bermanfaat, berdiskusi dengan santun, serta menghargai orang yang sedang belajar. Lingkungan yang mendukung akan membantu anak melihat membaca dan mengkaji ilmu sebagai kegiatan yang bernilai serta dapat dilakukan bersama.

Langkah pertama adalah membiasakan membaca dengan tujuan yang jelas. Orang tua atau guru dapat memilih bacaan sesuai usia anak, kemudian mengajak anak memperhatikan isi dan maknanya. Setelah membaca, anak dapat diminta menyebutkan gagasan utama atau menceritakan kembali isi bacaan. Kegiatan ini membantu memastikan bahwa membaca diikuti dengan pemahaman.

Nilai sorogan dapat diterapkan dengan meminta anak membaca bagian pendek di hadapan orang tua atau guru. Pendamping menyimak dan memberikan koreksi secara santun jika terdapat kesalahan. Anak diberi kesempatan mencoba kembali tanpa merasa dipermalukan. Cara ini melatih ketelitian, keberanian, dan kesediaan menerima masukan.

Nilai bandongan dapat diterapkan melalui kegiatan menyimak penjelasan. Orang tua atau guru membacakan teks atau menjelaskan materi, sementara anak mencatat kata kunci dan hal yang dianggap penting. Setelah itu, catatan dapat dibaca kembali untuk memastikan anak memahami penjelasan. Catatan tidak harus panjang; beberapa pokok penting sudah cukup untuk membantu mengingat.

Nilai musyawarah dapat diterapkan dengan diskusi sederhana di rumah atau sekolah. Anak dapat diajak membahas isi bacaan, menjelaskan alasan pendapatnya, dan mendengarkan pandangan orang lain. Pendamping perlu mengingatkan agar setiap peserta berbicara bergiliran dan menghargai pendapat yang berbeda. Jika pembahasan menyangkut pengetahuan agama, rujukan dan bimbingan orang yang kompeten perlu diperhatikan.

Hafalan dan pengulangan dapat dilakukan melalui jadwal yang ringan dan teratur. Anak bisa mengulang bacaan, mengingat istilah penting, atau menjelaskan kembali pelajaran setelah jeda waktu tertentu. Pengulangan sebaiknya dilakukan dengan cara yang tidak membebani, disertai evaluasi sederhana untuk mengetahui bagian yang sudah dipahami dan bagian yang perlu dipelajari lagi.

Orang tua dan guru juga dapat menghubungkan hasil membaca dengan tindakan. Setelah mempelajari bacaan tentang akhlak, misalnya, anak diajak mengenali perilaku yang bisa diterapkan. Dengan begitu, literasi tidak berhenti pada kegiatan akademik, tetapi membantu anak menghubungkan pengetahuan dengan kehidupan sehari-hari.

Hal penting lainnya adalah menjaga suasana belajar yang aman dan menyenangkan. Koreksi sebaiknya disampaikan untuk membantu, bukan mempermalukan. Anak perlu merasa bahwa bertanya dan mengakui belum memahami sesuatu merupakan bagian wajar dari proses belajar. Dukungan seperti ini membantu membangun rasa ingin tahu dan kebiasaan belajar jangka panjang.

Pada akhirnya, penerapan tradisi literasi tidak harus rumit. Membaca beberapa halaman, membuat catatan singkat, berdiskusi selama beberapa menit, lalu mengulang materi merupakan langkah yang dapat dimulai dari rumah. Jika dilakukan secara teratur, kegiatan sederhana tersebut dapat membangun kebiasaan membaca dan mengkaji yang lebih kuat.

Tradisi literasi pesantren yang mencakup sorogan, bandongan, musyawarah atau bahtsul masail, serta hafalan dan pengulangan memperlihatkan bahwa proses belajar memerlukan keterlibatan aktif, bimbingan, ketelitian, dan kebiasaan mengulang. Tradisi ini menjadikan pesantren sebagai lingkungan yang kuat dalam membaca, mencatat, berdiskusi, dan mengamalkan ilmu.

Menjelang Hari Santri pada 22 Oktober, nilai-nilai tersebut dapat menjadi inspirasi bagi keluarga dan lembaga pendidikan. Tidak semua kegiatan harus diterapkan dalam bentuk yang sama seperti di pesantren. Hal terpenting adalah mengambil nilai dasarnya dan menyesuaikannya dengan kebutuhan anak: membaca dengan pemahaman, mencatat hal penting, berdiskusi dengan santun, menerima koreksi, dan mengulang materi secara teratur.

Yayasan Pendidikan Cendekia Muslim mengajak keluarga untuk mulai dari kebiasaan sederhana di rumah. Tradisi belajar pesantren mana yang bisa diterapkan di rumah? Pertanyaan ini dapat menjadi awal untuk memilih kegiatan literasi yang paling sesuai bagi anak dan menjadikannya bagian dari rutinitas keluarga.

Semoga kebiasaan membaca, mencatat, berdiskusi, dan mengamalkan ilmu membantu anak tumbuh menjadi pembelajar yang berpengetahuan, beradab, serta mampu memberi manfaat bagi lingkungan. Aamiin.

Bagikan: WhatsApp Facebook

Baca juga