Lewati ke konten
Yayasan Pendidikan Cendekia Muslim
Berita Edukasi

Memilih Perkataan Terbaik, Langkah Sederhana Menjaga Hubungan Dan Mencegah Perselisihan

Senin, 02 November 2026 · 06.44 WIB Suci Rahmawati 11 menit baca 4×
Memilih Perkataan Terbaik, Langkah Sederhana Menjaga Hubungan Dan Mencegah Perselisihan

Sijunjung, Senin, 2 November 2026. Perkataan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia. Melalui kata-kata, seseorang menyampaikan pikiran, perasaan, harapan, nasihat, dan tanggapan terhadap berbagai keadaan. Kata-kata juga menjadi jembatan untuk membangun hubungan, menyelesaikan persoalan, serta menyampaikan kebaikan. Namun, perkataan yang tidak dijaga dapat menimbulkan luka, kesalahpahaman, bahkan perselisihan yang sebenarnya bisa dihindari.

Kesadaran untuk memilih perkataan terbaik menjadi pesan penting yang disampaikan Yayasan Pendidikan Cendekia Muslim melalui pengingat bertema “Ucapkan Perkataan yang Terbaik”. Pesan tersebut merujuk pada firman Allah Swt. dalam QS. Al-Isra’ ayat 53 yang memerintahkan hamba-hamba-Nya agar mengucapkan perkataan yang lebih baik atau benar. Ayat ini sekaligus mengingatkan bahwa setan berupaya menimbulkan perselisihan di antara manusia melalui perkataan dan interaksi yang tidak terjaga.

Pesan tersebut relevan dalam kehidupan sehari-hari, baik ketika seseorang berbicara secara langsung maupun saat berkomunikasi melalui media sosial. Setiap orang memiliki kesempatan untuk memilih kata yang akan disampaikan. Pilihan itu dapat menghadirkan ketenangan dan pemahaman, atau sebaliknya memperbesar persoalan. Karena itu, membiasakan perkataan yang baik bukan hanya persoalan tata krama, melainkan juga bagian dari tanggung jawab moral dan keimanan.

Melalui pesan ini, Yayasan Pendidikan Cendekia Muslim mengajak keluarga, pendidik, pelajar, dan masyarakat untuk lebih berhati-hati dalam berbicara. Orang tua dan pendidik diharapkan memilih kalimat yang membangun ketika menegur anak. Pelajar diajak membiasakan tutur kata santun kepada teman maupun pendidik. Ajakan tersebut menempatkan komunikasi yang baik sebagai salah satu kebiasaan penting dalam membangun lingkungan yang saling menghargai.

QS. Al-Isra’ ayat 53 memberikan arahan agar manusia mengucapkan perkataan yang lebih baik. Pesan ini mengandung tuntunan untuk tidak berbicara secara sembarangan, terutama ketika sedang berbeda pendapat, kecewa, marah, atau menghadapi situasi yang memancing emosi. Dalam keadaan seperti itu, seseorang perlu mengendalikan diri dan mempertimbangkan dampak dari kata-kata yang akan disampaikan.

Perintah memilih perkataan yang baik juga mengajarkan bahwa kebenaran perlu disampaikan dengan cara yang patut. Seseorang mungkin memiliki maksud yang benar, tetapi cara penyampaiannya dapat melukai apabila dilakukan dengan kasar, merendahkan, atau mempermalukan orang lain. Oleh sebab itu, isi pesan dan cara menyampaikannya sama-sama perlu diperhatikan.

Ayat tersebut juga mengingatkan bahwa setan berupaya menimbulkan perselisihan di antara manusia. Salah satu jalan yang dapat memicu perselisihan adalah perkataan yang buruk, tuduhan tanpa dasar, ejekan, sindiran yang merendahkan, serta ucapan yang sengaja memancing kemarahan. Ketika seseorang terburu-buru merespons tanpa berpikir, hubungan yang semula baik dapat berubah menjadi pertengkaran.

Memilih kata terbaik bukan berarti seseorang harus diam ketika melihat kesalahan atau ketidakadilan. Nasihat, teguran, dan pendapat tetap dapat disampaikan. Akan tetapi, penyampaiannya perlu mempertimbangkan kebenaran, tujuan, waktu, dan keadaan orang yang menerima. Dengan cara demikian, perkataan dapat menjadi sarana memperbaiki keadaan, bukan memperkeruh suasana.

Pesan Al-Qur’an ini dapat menjadi pedoman dalam berbagai ruang kehidupan. Di rumah, perkataan baik membantu menjaga kedekatan anggota keluarga. Di lingkungan pendidikan, tutur kata santun mendukung proses belajar dan hubungan yang sehat. Di tengah masyarakat, komunikasi yang terjaga membantu memelihara persaudaraan. Sementara di ruang digital, kehati-hatian dalam menulis dapat mencegah penyebaran konflik.

Kata-kata memiliki pengaruh yang besar terhadap perasaan seseorang. Kalimat yang disampaikan dengan lembut dan penuh penghargaan dapat memberikan ketenangan, menguatkan keberanian, serta membuat seseorang merasa dihargai. Sebaliknya, ucapan yang kasar dapat meninggalkan luka dan membuat orang lain merasa direndahkan. Dampak sebuah perkataan tidak selalu selesai ketika percakapan berakhir; terkadang seseorang masih mengingatnya dalam waktu yang panjang.

Perkataan baik dapat menjadi bentuk dukungan ketika orang lain sedang menghadapi kesulitan. Kalimat sederhana seperti “Terima kasih sudah berusaha”, “Mari kita cari jalan keluarnya”, atau “Saya bersedia mendengarkan” dapat membuka ruang komunikasi yang lebih hangat. Ucapan tersebut tidak harus panjang, tetapi perlu disampaikan dengan tulus dan sesuai keadaan.

Di dalam keluarga, kata-kata menjadi bagian dari cara orang tua membangun rasa aman bagi anak. Anak belajar memahami dirinya dan lingkungan melalui interaksi dengan orang-orang terdekat. Ketika orang tua menggunakan bahasa yang menghargai, anak memperoleh contoh bagaimana menyampaikan pendapat, mengungkapkan perasaan, serta menghadapi perbedaan dengan cara yang baik.

Sebaliknya, kebiasaan melontarkan kata-kata yang merendahkan dapat membuat komunikasi menjadi tertutup. Anak mungkin enggan bercerita karena khawatir disalahkan atau diejek. Anggota keluarga juga dapat memilih diam ketika merasa perkataannya tidak dihargai. Oleh karena itu, menjaga tutur kata perlu menjadi perhatian seluruh anggota keluarga, bukan hanya anak.

Di lingkungan pertemanan, perkataan yang santun membantu membangun kepercayaan. Candaan yang dianggap lucu oleh satu orang belum tentu menyenangkan bagi orang lain. Karena itu, setiap orang perlu peka terhadap batasan dan perasaan lawan bicara. Menghindari ejekan, julukan yang merendahkan, serta komentar yang mempermalukan merupakan langkah sederhana untuk menjaga hubungan baik.

Orang tua memiliki peran penting dalam mengenalkan kebiasaan berkomunikasi yang baik kepada anak. Pembiasaan tersebut dapat dimulai dari percakapan sehari-hari di rumah. Anak memperhatikan bagaimana orang tua berbicara kepada pasangan, anggota keluarga, tetangga, maupun orang yang ditemui. Perilaku yang disaksikan berulang kali dapat menjadi contoh yang ditiru.

Ketika anak melakukan kesalahan, orang tua tetap perlu memberikan teguran dan arahan. Namun, teguran sebaiknya diarahkan pada tindakan yang perlu diperbaiki, bukan menyerang pribadi anak. Kalimat yang menjelaskan perilaku tertentu akan lebih membantu anak memahami kesalahannya dibandingkan sebutan yang memberi cap buruk kepada dirinya.

Misalnya, daripada mengatakan bahwa anak tidak pernah bisa diandalkan, orang tua dapat menjelaskan bahwa tugas yang disepakati belum diselesaikan dan mengajak anak mencari cara agar tanggung jawab itu dapat dituntaskan. Perbedaan cara menyampaikan tersebut membantu anak memahami hal yang perlu diperbaiki tanpa merasa seluruh dirinya ditolak.

Orang tua juga dapat membiasakan ungkapan positif dalam keluarga. Ucapan salam, terima kasih, tolong, maaf, dan penghargaan atas bantuan anggota keluarga dapat menjadi bagian dari kebiasaan. Ketika orang tua bersedia meminta maaf setelah keliru berbicara, anak belajar bahwa setiap orang bertanggung jawab atas perkataannya dan dapat memperbaiki kesalahan.

Pengendalian emosi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kebiasaan bertutur kata baik. Ketika sedang marah, orang tua dapat mengambil jeda sebelum memberikan tanggapan. Menenangkan diri sejenak membantu seseorang memilih kalimat yang lebih tepat. Langkah tersebut bukan berarti mengabaikan masalah, melainkan berusaha menyelesaikannya tanpa menambah luka melalui ucapan.

Di lingkungan pendidikan, perkataan menjadi bagian dari proses pembentukan karakter. Pendidik tidak hanya menyampaikan pengetahuan, tetapi juga memberikan contoh dalam berkomunikasi. Cara pendidik menyapa, memberi arahan, menegur, dan menanggapi pertanyaan dapat menjadi pengalaman belajar bagi peserta didik.

Teguran yang disampaikan dengan jelas dan santun dapat membantu peserta didik memahami perilaku yang perlu diperbaiki. Sebaliknya, ucapan yang mempermalukan di hadapan orang lain berisiko membuat peserta didik merasa tidak dihargai. Karena itu, penggunaan bahasa yang membangun perlu diperhatikan dalam berbagai situasi pendidikan.

Peserta didik juga perlu membiasakan tutur kata santun kepada pendidik dan teman. Menghargai orang lain dapat diwujudkan dengan mendengarkan ketika seseorang berbicara, tidak memotong pembicaraan, menghindari ejekan, serta menyampaikan ketidaksetujuan dengan bahasa yang sopan. Kebiasaan tersebut membantu menciptakan suasana belajar yang nyaman dan saling menghormati.

Ketika terjadi perbedaan pendapat, lingkungan pendidikan dapat menjadi ruang latihan untuk berdialog. Peserta didik belajar menyampaikan alasan, mendengarkan pandangan yang berbeda, dan menerima bahwa tidak semua orang memiliki pemikiran yang sama. Perbedaan tidak harus berakhir dengan pertengkaran apabila setiap pihak bersedia menjaga bahasa dan menghormati lawan bicara.

Budaya komunikasi yang baik membutuhkan perhatian bersama. Orang tua, pendidik, dan peserta didik dapat saling mengingatkan tanpa merendahkan. Dengan demikian, nilai kesantunan tidak hanya menjadi materi yang disampaikan, tetapi hadir sebagai kebiasaan yang dapat dirasakan dalam kehidupan sehari-hari.

Perintah mengucapkan perkataan terbaik tidak hanya berlaku ketika seseorang bertatap muka. Pesan yang sama juga relevan dalam penggunaan media sosial dan berbagai sarana komunikasi digital. Tulisan, komentar, unggahan, dan pesan singkat merupakan bentuk komunikasi yang dapat dibaca serta ditanggapi oleh orang lain.

Komunikasi digital sering berlangsung cepat. Seseorang dapat menulis komentar ketika sedang marah, membagikan informasi tanpa memeriksa kebenarannya, atau ikut menyebarkan pernyataan yang memicu perdebatan. Karena pesan dapat tersebar luas dan disimpan oleh orang lain, setiap pengguna perlu mempertimbangkan dampak sebelum menekan tombol kirim atau membagikan suatu unggahan.

Salah satu kebiasaan yang perlu dibangun adalah membaca ulang tulisan sebelum dikirim. Periksa apakah kalimat tersebut benar, diperlukan, dan disampaikan dengan cara yang pantas. Jika tulisan mengandung hinaan, tuduhan, atau kata-kata yang berpotensi mempermalukan seseorang, pertimbangkan untuk mengubahnya menjadi kalimat yang lebih santun dan berfokus pada persoalan.

Pengguna media sosial juga perlu berhati-hati terhadap informasi yang belum jelas sumbernya. Membagikan kabar tanpa memastikan kebenaran dapat menimbulkan kesalahpahaman dan merugikan pihak lain. Ketika menemukan informasi yang memancing emosi, sebaiknya tidak langsung menyebarkannya. Periksa sumber dan konteksnya terlebih dahulu.

Perbedaan pendapat di ruang digital seharusnya tetap dapat disampaikan secara beradab. Seseorang dapat mengkritik gagasan tanpa menghina pribadi, memberikan koreksi tanpa mempermalukan, dan menyampaikan ketidaksetujuan tanpa menggunakan kata-kata kasar. Sikap tersebut membantu menjaga ruang digital agar lebih bermanfaat dan tidak menjadi tempat berkembangnya permusuhan.

Perselisihan sering kali membesar ketika setiap pihak lebih berfokus membalas daripada memahami persoalan. Satu kalimat yang diucapkan dengan nada tinggi dapat dibalas dengan kalimat yang lebih keras. Jika tidak dihentikan, percakapan berubah menjadi pertukaran kata-kata yang saling menyakiti dan menjauhkan para pihak dari penyelesaian.

Mengendalikan diri sebelum berbicara merupakan langkah penting untuk mencegah keadaan tersebut. Seseorang dapat berhenti sejenak, menenangkan pikiran, dan memikirkan tujuan yang ingin dicapai. Apabila tujuan utamanya adalah menyelesaikan masalah, maka kata-kata yang dipilih seharusnya membantu membuka jalan menuju pemahaman.

Mendengarkan secara utuh juga dapat mengurangi kesalahpahaman. Tidak semua pernyataan perlu langsung dibantah. Ada kalanya seseorang hanya membutuhkan kesempatan untuk menjelaskan maksudnya. Dengan mendengarkan, kita dapat memahami konteks dan menghindari tanggapan yang keliru.

Jika perkataan yang kurang tepat telanjur disampaikan, langkah memperbaiki hubungan dapat dimulai dengan mengakui kesalahan dan meminta maaf. Permintaan maaf yang tulus tidak menghapus seluruh dampak secara otomatis, tetapi dapat menjadi awal untuk memulihkan komunikasi. Setelah itu, diperlukan kesediaan untuk memperbaiki kebiasaan agar kesalahan serupa tidak terus berulang.

Menghindari perselisihan bukan berarti menghindari semua pembicaraan yang sulit. Persoalan tetap perlu dibahas, tetapi dengan tujuan mencari penyelesaian. Ketegasan dapat berjalan bersama kesantunan. Seseorang dapat menyampaikan batasan, menolak tindakan yang tidak benar, dan mengingatkan orang lain tanpa harus merendahkan martabatnya.

Membiasakan perkataan terbaik dapat dimulai dari hal-hal sederhana. Setiap orang dapat berlatih memilih kalimat yang memberikan penghargaan, menyampaikan maksud secara jelas, dan tidak menambah beban perasaan orang lain. Kebiasaan ini perlu dilatih dalam percakapan sehari-hari, bukan hanya ketika berada dalam suasana formal.

Beberapa ungkapan sederhana dapat menjadi awal pembiasaan, seperti “Terima kasih atas bantuanmu”, “Maaf jika perkataan saya kurang tepat”, “Silakan sampaikan pendapatmu”, “Saya memahami bahwa kita memiliki pandangan berbeda”, atau “Mari kita bicarakan dengan baik”. Kalimat-kalimat tersebut menunjukkan penghargaan dan membuka ruang komunikasi.

Namun, perkataan baik tidak cukup hanya terdengar indah. Ucapan perlu sesuai dengan niat dan tindakan. Mengucapkan terima kasih, misalnya, perlu disertai penghargaan yang tulus. Memberikan nasihat perlu dilakukan dengan kepedulian. Menyampaikan janji perlu diikuti usaha untuk menepatinya. Keselarasan antara kata dan perbuatan membuat komunikasi lebih dapat dipercaya.

Setiap orang juga dapat membiasakan diri untuk tidak ikut menyebarkan gosip, menghindari pembicaraan yang merendahkan orang lain, dan tidak menjadikan kekurangan seseorang sebagai bahan candaan. Apabila pembicaraan mulai mengarah pada hal yang tidak bermanfaat, seseorang dapat mengalihkan topik atau memilih tidak ikut terlibat.

Pada akhirnya, kualitas komunikasi dapat terlihat dari kemampuan seseorang menjaga lisan ketika senang maupun kecewa. Perkataan yang baik bukan hanya dibutuhkan ketika hubungan sedang harmonis, tetapi justru sangat penting ketika muncul perbedaan dan ketegangan. Di saat seperti itulah kesabaran, pengendalian diri, dan kesadaran terhadap ajaran agama diuji.

Budaya bertutur yang baik tidak terbentuk hanya melalui satu nasihat. Ia tumbuh dari kebiasaan yang dilakukan dan dicontohkan secara berulang. Keluarga dapat menjadi tempat pertama untuk membangun kebiasaan tersebut, sementara lingkungan pendidikan dan masyarakat memperluas penerapannya dalam hubungan sosial.

Di rumah, anggota keluarga dapat saling mengingatkan agar tidak menggunakan kata-kata kasar ketika berbeda pendapat. Di lingkungan pendidikan, pembiasaan komunikasi santun dapat mendukung hubungan yang saling menghargai. Di masyarakat, kebiasaan menyampaikan kritik dengan bahasa yang baik dapat membantu menjaga suasana kebersamaan.

Yayasan Pendidikan Cendekia Muslim melalui pesan ini menempatkan nilai komunikasi yang santun sebagai bagian dari penguatan karakter. Pendidikan karakter tidak hanya berkaitan dengan pengetahuan mengenai perilaku baik, tetapi juga bagaimana nilai tersebut diwujudkan dalam tindakan, termasuk dalam pilihan kata sehari-hari.

Ajakan untuk mengucapkan perkataan terbaik juga mengandung ruang refleksi bagi setiap individu. Sebelum berbicara, seseorang dapat bertanya kepada dirinya sendiri: apakah kalimat ini benar, apakah perlu disampaikan, apakah cara penyampaiannya baik, dan apakah ada cara yang lebih santun untuk mengungkapkannya? Pertanyaan sederhana tersebut dapat membantu mengurangi ucapan yang lahir dari emosi sesaat.

Pesan “Ucapkan Perkataan yang Terbaik” mengingatkan bahwa setiap kata memiliki konsekuensi. Ucapan yang baik dapat menjadi penguat bagi orang lain, membuka ruang dialog, dan menjaga hubungan. Sebaliknya, perkataan yang kasar atau tidak dipertimbangkan dapat meninggalkan luka serta memicu perselisihan. Karena itu, menjaga lisan dan tulisan merupakan kebiasaan yang perlu terus dibangun oleh setiap orang.

Melalui pengingat yang merujuk pada QS. Al-Isra’ ayat 53, Yayasan Pendidikan Cendekia Muslim mengajak orang tua, pendidik, pelajar, dan masyarakat untuk menjadikan kesantunan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Pilihlah kalimat yang membangun ketika menegur, sampaikan pendapat dengan hormat, dengarkan sebelum membalas, dan berhati-hatilah ketika menulis di media sosial.

Perubahan dapat dimulai dari satu kalimat sederhana yang diucapkan dengan tulus kepada orang terdekat. Ucapan terima kasih, permintaan maaf, dukungan, dan nasihat yang disampaikan dengan baik dapat menjadi awal hubungan yang lebih hangat. Maka, pertanyaan yang patut direnungkan bersama adalah: kalimat baik apa yang ingin kita ucapkan kepada orang terdekat hari ini?

Semoga setiap perkataan yang keluar dari lisan dan tulisan kita menjadi jalan menghadirkan kebaikan, bukan sumber pertengkaran. Dengan membiasakan kata-kata yang benar, santun, dan membangun, kita turut menjaga keharmonisan keluarga, lingkungan pendidikan, dan masyarakat, sekaligus berusaha menjalankan tuntunan Allah Swt. dalam kehidupan sehari-hari.

Bagikan: WhatsApp Facebook

Baca juga